MyePH

15 Zulhijjah 1431 H
Oleh : Fatiq Mohezad Mohd Suhaimi

Teladan Keteguhan Jiwa Sang Sufi

Martabat Wali

Urutan dari kumpulan para Wali :

1)Wali Abdal
2)Wali Albab
3)Wali Ahbab
4)Wali Anjab
5)Wali Kutub
6)Quthbul Akhtab
7)Sultanil A'uliyah (Raja Segala Wali)

Abd al-Qadir al-Jilani ibn Salih ibn Jangidost, adalah sheikh pendakwah sufi mazhab Hanbali keturunan Parsi dan pemimpin mazhab Sufi Qadiri. Dia dilahirkan pada 1 Ramadan pada 470 H., 1078 M., di daerah Gilan, Parsi (Iran) selatan Laut Caspian. Oleh kerana bahasa Parsi tidak memiliki "G" dalam tulisan Arab, namanya juga direkodkan sebagai Kilani dan Jilani dalam manuskrip Arab.

Gilani tergolong dalam rangkaian kerohanian Junayd Baghdadi. Sumbangannya kepada pemikiran Dunia Muslim memberikannya gelaran Muhiyuddin (harafiah. "Pembangkit semula keyakinan"),

kerana dia bersama muridnya dan rakan sejawat meletakkan batu asas bagi masyarakat yang kemudiannya menghasilkan ulama seperti Nuruddin Zengi dan Salahuddin al-Ayyubi. Golongan Sufi yang dinamakan sempena namanya dipercayai yang tertua dan yang terawal dikalangan golongan sedemikian.

Setiap 11 Rabi’ul Akhir, kaum muslimin memperingati Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, pengasas Tariqat Qadiriyyah. Sayang, selama ini yang menjadi kekaguman orang ialah keajaiban karamahnya. Padahal, keteguhan jiwa dan istiqamahnya dalam beribadah merupakan karamah terbesar yang seharusnya diteladani.

Beliau adalah seorang ulama besar sehingga suatu kewajaran jika sekarang ini banyak kaum muslimin menyanjungnya dan mencintainya. Akan tetapi kalau meninggi-ninggikan darjat beliau melebihi Rasulullah sallallaahu 'alaihi wa sallam, maka hal ini merupakan suatu kekeliruan.

Kerana Rasulullah sallallaahu 'alaihi wa sallam adalah rasul yang paling mulia di antara para nabi dan rasul yang darjatnya tidak akan pernah bisa dilampaui di sisi Allah oleh manusia siapapun.

Ada juga sebagian kaum muslimin yang menjadikan Syaikh Abdul Qadir Al Jailani sebagai wasilah (perantara) dalam do'a mereka. Berkeyakinan bahwa doa seseorang tidak akan dikabulkan oleh Allah, kecuali dengan perantaraannya. Ini juga merupakan kesesatan.

Antara Karamah Beliau

Baghdad, Ahad, 3 Shafar 555 Hijriyyah. Guru mursyid itu, Syaikh Abdul Qadir Al Jailani baru saja menyelesaikan wuduknya. Dengan terompah yang masih basah, ia berjalan menuju ke sejadahnya yang telah tebentang di lantai masjid, lalu menunaikan solat sunat dua rakaat, sementara beberapa murid duduk penuh tazhim menunggu, tak jauh dari tempat sang mursyid solat.

Ketika sang mursyid mengucap salam, dan baru saja mengalunkan dua tiga kalimat zikir, tiba-tiba sang guru melontarkan salah satu terompahnya ke angkasa sambil menjerit marah. Belum sempat lagi para santri (pelajar) lega, tiba-tiba ia melemparkan terompah yang satu lagi. Sepasang terompah itu pun lenyap di angkasa.

Setelah itu dia melanjutkan zikir, seolah tak terjadi apa-apa. Tak seorang santri pun berani menanyakan perilaku pelik sang mursyid besar, yang tiada lain Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani.

Sekitar 23 hari kemudian, dua orang santri Syaikh Abdul Qadir, yaitu Syaikh Abu Umar Utsman As-Sairafi dan Syaikh Abu Muhammad Abdul Haqqi Al-Harimiyyah, dikejutkan oleh kedatangan serombongan kafilah pedagang di pintu gerbang madrasah mereka. Mereka menyatakan ingin bertemu dengan sang guru untuk menyampaikan nazar.

Maka Syaikh Abu Umar pun menghadap Syaikh Abdul Qadir, menyampaikan pesanan tetamunya. Dengan tenang Syaikh Abdul Qadir memerintahkan agar Abu Umar menerima apa pun yang akan diberikan oleh tamunya. Kafilah itu menyerahkan hadiah, terdiri atas perhiasan emas dan pakaian dari sutera, serta sepasang terompah tua yang sangat mereka kenal sebagai terompah Syaikh Abdul Qadir.

“Bagaimana terompah guru kami berada di tangan kalian?” tanya kedua santri tariqat itu kehairanan.

Pemimpin kafilah itu pun bercerita. Pada 3 Shafar 555 Hijriyyah, mereka dihalang sekumpulan perompak di sebuah gurun pasir di luar Jazirah Arab. Kerana ketakutan, semua anggota kafilah melarikan diri meninggalkan sebahagian barang dagangan mereka.

Namun tiba-tiba mereka berhenti, kerana telah dikepong. Sementara gerombolan perompak semakin dekat. Sambil bersorak mereka mengejar anggota kafilah yang membawa lari sisa-sisa barang dagangan.

Apa boleh buat, anggota kafilah itu pun pasrah. Di tengah ketakutan yang mencengkam, pemimpin kafilah itu berdoa, “Ya Allah, dengan berkah Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, selamatkanlah kami. Jika selamat, kami bernazar akan memberikan hadiah kepada beliau.”

Dengan Izin Allah, tiba-tiba sorakan perompak itu terhenti, berganti dengan teriakan histeria ketakutan. Dan sesaat kemudian sepi, hening. Tak lama sesudah itu ketua perompak mendatangi kafilah pedagang dengan wajah ketakutan.

Katanya dengan suara gementar “Saudaraku, ikutlah denganku, ambillah kembali barang-barang kalian yang kami rompak, dan tolong ampuni kami.”

Para anggota kafilah hairan dan saling berpandangan. Dengan takut-takut mereka mengikuti si perompak. Sampai di tempat mereka meninggalkan barang dagangan, mereka menyaksikan pemandangan yang lebih aneh lagi.

Dua orang perompak tewas dengan kepala luka parah. Di sebelah masing-masing terdapat sebuah terompah yang masih basah, sementara sebahagian besar anggota perompak terduduk bingung dengan wajah ketakutan.

Menurut salah seorang perompak, ketika mereka tengah berpesta, tiba-tiba sebuah terompah melekat dan menghentam kepala salah seorang pemimpin.

Belum hilang kehairanan mereka, tiba-tiba sebuah terompah lagi melekat dan menghentam kepala pemimpin lainnya. Keduanya tewas seketika. “Melayangnya terompah itu diiringi dengan jeritan keras yang membuat lutut kami gementar dan ketakutan,” katanya.

Masih banyak karamah pengasasTariqat Qadiriyyah ini. Bahkan, dalam salah satu manaqibnya, An-Nurul Burhani fi Manaqibi Sulthanil Awliya’ Syaikh Abdil Qadir Al-Jilani, terdapat satu bab khusus yang mengisahkan berbagai karamah sang wali yang pernah disaksikan oleh banyak orang.

Karamah-karamah Syaikh Abdul Qadir memang menjadi lagenda, hingga masyarakat awam menyebut-nyebut namanya sebagai usaha mendapatkan keluarbiasaan atau kesaktian. Beberapa perguruan persilatan bela diri tenaga dalam yang “Islami”,

misalnya, menjadikan pembacaan manaqib Syaikh Abdul Qadir sebagai ritual untuk meyempurnakan ilmu kesaktian, dan sebagainya.

Sayang sekali, selama ini (sebahagian) kaum muslimin hanya mengingati atau mengagumi keajaiban karamah-karamahnya. Padahal, yang paling afdal ialah mempelajari dan mengikuti perjalanan Sufi Syaikh Abdul Qadir, yang sarat dengan perilaku kesolehan dan kegigihan dalam belajar serta beribadah, yang membuatnya layak diangkat sebagai wali quthb alias penghulu para wali.

Diceritakan lagi, kisah kejujuran Abdul Qadir sewaktu kecil ketika berangkat belajar ke Baghdad. Ketika itu ibundanya membekalkannya 40 keping wang emas warisan ayahandanya. Supaya selamat dalam perjalanan, wang yang sangat berharga itu dijahitkan dalam jubahnya.

Ibunya berpesan agar Abdul Qadir selalu bersikap benar dan jujur, tidak berbohong. Maka, selama hayatnya pesan ibunya itu sentiasa menjadi pegangan yang teguh.

Dalam perjalanan ia dihalang sekelompok perompak. Salah seorang perompak bertanya, apakah ia memiliki barang berharga. Abdul Qadir menjawab dengan jujur, ia memiliki 40keping wang emas. Anehnya, perompak itu tidak percaya dan berlalu pergi.

Tak lama kemudian Abdul Qadir dihalang lagi oleh perompak yang lain. Kali ini mereka adalah para perompak yang keji. Mereka mengambil habis semua harta milik rombongan kafilah yang seperjalanan dengan Abdul Qadir.

Ketika tiba giliran untuk memeriksa Abdul Qadir, mereka membentak apakah dia punya harta berharga. Abdul Qadir menjawab dengan jujur, ia punya 40 keping emas, sambil menunjukkan jahitan tempat menyimpan bekal dari ibundanya itu.

Ketua perompak yang memeriksanya terkejut dan hairan, mengapa dia mengaku dengan jujur.

“Aku sudah berjanji kepada Ibu untuk selalu jujur dan benar dalam keadaan apa pun,” kata Abdul Qadir.

Kerana ego, perompak itu membentak lagi, “Tapi, sekarang ibumu kan tidak ada di sini. Ia tidak akan tahu jika engkau berbohong.”

“Betul. Tetapi janjiku untuk selalu jujur dan benar itu disaksikan Allah SWT, yang tidak pernah tidur dan alpa dalam mengawasi hamba-hamba-Nya,” jawab Abdul Qadir dengan tenang.

Spontan si ketua perompak tak tentu arah, kemudian bersimpuh di hadapan Abdul Qadir, yang masih muda itu. “Engkau telah menjaga janji kepada ibumu, sedangkan kami melupakan janji kami kepada Sang Pencipta,” ujarnya, yang kemudian bertaubat.

Sejak itu, para perompak tersebut menjadi murid Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani.

Masih banyak kisah yang menceritakan kesungguhan mujahadah Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani dalam membersihkan kalbu dan jiwanya.

Perjuangan berat disertai sikap istiqamahnya melayakkannya menjadi sulthanul awliya’ (penghulu para wali Allah) dan kaum sufi sepanjang masa.

Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, memang termasyhur sebagai salah seorang yang banyak memiliki karamah, bahkan sejak sebelum ia lahir. Ketika ia masih dalam kandungan ibundanya, Fatimah binti Abdullah Al-Shama’i Al-Husaini,

ayahandanya, Abu Shalih Musa Zanki Dausath, bermimpi bertemu Rasulullah SAW bersama sejumlah sahabat, para mujahidin, dan para wali. Dalam mimpi itu Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Abu Shalih, Allah SWT akan memberi amanah seorang anak laki-laki yang kelak akan mendapat pangkat tinggi dalam kewalian, sebagaimana aku mendapat pangkat tertinggi dalam kenabian dan kerasulan.”

Saat melahirkan bayi Abdul Qadir pada 1 Ramadhan 471 Hijriyyah di Desa Jilan, dekat Tabaristan, Irak, sang ibunda telah berusia 60 tahun lebih – bukan usia yang lazim bagi perempuan untuk melahirkan seorang bayi.

Keajaiban lainnya, tak seperti bayi pada umumnya, bayi Abdul Qadir tidak pernah menyusu kepada ibundanya di siang hari bulan Ramadhan. Sang bayi baru menangis minta disusui saat mentari tenggelam di ufuk barat, yang menandakan datangnya waktu maghrib. Uniknya, keanehan luar biasa itu dimanfaatkan oleh warga Jilani sebagai pedoman waktu imsak dan berbuka puasa.

Hasil karya

Sesetengah hasil karya Jilani yang terkenal termasuk:

Al-Ghunya li-talibi tariq al-haqq wa al-din (Bekalan Mencukupi bagi Pencari Jalan Agama dan Kebenaran)
Al-Fath ar-Rabbani (The Sublime Revelation)
Malfuzat (Utterances)
Futuh al-Ghaib (Revelations of the Unseen)
Jala' al-Khatir (The Removal of Care)
Read More …